Senin, 25 September 2017

Hanya Sedikit Pengingat Untukku Pribadi

   Rutinitas yang tiap hari saya lakukan dalam perjalanan pulang dan pergi bekerja atau pergi entah kemana menghasilkan angen-angen yang menumpuk dan terkumpul di kepala setiap kali mengendarai motor butut saya yang tanpa sadar ternyata bisa coba saya kaitkan dengan kehidupan yang saya jalani bersama keluarga kecil saya.

       Pertama, bermula dari mindset yang terbentuk sebab seringnya latihan cornering dan ikut fun race di sirkuit Kenjeran - Surabaya pada jaman dahulu kala yaitu, "Sebisa mungkin cobalah untuk melaju di saat semua orang sedang melamban". Lha, salah satu sebab umum kebanyakan orang melamban adalah rintangan dan tikungan, sehingga saya harus mempelajari cara cornering yang fast-in-fast-out yet safetiest, konsekuensinya adalah banyak komponen dalam kendaraan yang harus ditingkatkan, mulai dari yang paling dianggap remeh, yaitu minyak rem, sampai komponen yang lebih vital seperti kabel rem, diameter disc brake, ukuran sprocket, velg dan ban, hingga footstep.


       Demikian juga dengan aktivitas dan rutinitas tiap hari yang mengharuskan saya sebisa mungkin harus bisa menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan tenggat waktu yang telah ditetapkan, dengan cara lembur hingga malam bahkan dini hari, sebisa mungkin saya harus produktif di saat semua orang pada umumnya beristirahat. Oleh karena itu saya harus mempelajari cara menjaga daya tahan tubuh (salah satunya dengan mencoba menjaga pola makan dan asupan gizi) hingga menciptakan sebuah suasana lembur yang senyaman mungkin, biasanya saya mengajak lembur "teman" saya (beberapa koleksi mobil diecast) 😊.


       Kedua, banyak hal unik dari para pembalap tentang religious things yang membuat saya sangat salut kepada mereka meski terlihat remeh. Di antaranya ada pembalap road race yang memiliki helm bercorak kaligrafi lafdz al-jalaalah, ada juga pembalap sportbike yang selalu melakukan sholat sunnah tiap kali akan berlaga dengan alasan, "mungkin saat itulah terakhir kali dia bisa menghadap Sang Maha Kuasa dalam keadaan masih bernapas", hingga pembalap MotoGP bernama Karel Abraham yang tetap setia memilih angka 17 sebagai nomor start pada motornya dengan alasan "17 adalah jumlah roka'at sholat fardlu tiap harinya".

       Semua hal unik tersebut bertujuan agar selalu teringat dan mengingat Sang Pencipta, hal yang masih sulit sekali untuk coba saya terapkan, meski letak kantor yang sangat dekat dengan masjid, namun jiwa dan raga ini ðŸ˜„ seolah berat sekali untuk beranjak meski iqomah sudah dikumandangkan, akhirnya selalu menjadi ma'mum masbuq.
   Terasa tertampar keras sekali muka ini saat mengetahui hal unik yang terkesan remeh tersebut bersumber dari seorang pembalap, yap., seorang pembalap yang jenis olahraga pilihan mereka sering dicap negatif bagi beberapa orang.

Semoga bermanfaat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar